Sunday, July 14, 2019

Tiada Merah di Hari Terindah


Tiada Merah di Hari Terindah

Bandung Mawardi


Jutaan orang di Indonesia pernah dipijami buku oleh negara. Buku itu terbitan Depdikbud memiliki pesan ke murid: “Buku ini milik negara. Dipinjamkan kepada murid untuk dibawa pulang! Pelajarilah isinya! Rawatlah baik-baik! Tahun depan adikmu yang akan menggunakan buku ini.” Kita sudah lupa pesan dicantumkan di sampul buku bagian belakang. Buku “paket” diurusi guru dan disimpan di perpustakaan untuk mencerdaskan murid-murid. Buku dicetak sederhana. Buku dengan gambar di sampul garapan Pak Raden.
Buku itu berjudul Bahasa Indonesia 3c: Membaca (1975). Buku dipinjamkan, mustahil jadi hak milik. Pengecualian adalah “pencuri” atau orang fanatik dengan nostalgia SD. Buku mujarab dalam usaha mencapai tujuan pendidikan nasional dan mengesahkan pembangunan nasional. Buku itu pula mungkin memberi sokongan pengangkatan Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Nasional. Buku pelajaran penting dalam pengisahan rezim Orde Baru. Buku itu “amal terindah” di masa lalu.
Kita membuka halaman 50-53, cerita berjudul “Kakak Sudah Kelas Enam”. Keluarga Pak Halim berkumpul di malam hari. Pak Halim membaca koran. Bu Halim sedang merenda. Tiga anak (Arman, Ima, Adi) sedang belajar. Duh, keluarga bahagia. Bapak berkata: “Arman, kau sudah kelas enam sekarang. Beberapa bulan lagi akan tamat dan menjadi murid SMP.” Arman sudah memiliki sikap-pilihan. Arman menjawab: “Arman tidak mau masuk SMP, Pak. Arman ingin menjadi tukang kayu. Arman ingin dapat membuat rumah sendiri.” Jawaban itu mirip dengan keinginan Franz Kafka. Kita telanjur mengenali sebagai pengarang sangar di dunia. Sejak bocah, ia bercita-cita menjadi tukang kayu. Eh, Franz Kafka malah menderita dan murung menghasilkan cerita dan novel. Jadilah ia pengarang, tukang cerita.
Perkataan Arman membuat bapak-ibu tercengang. Pilihan Arman dihormati melalui penjelasan bermutu: “Bapak setuju, Arman. Pekerjaan tukan kayu pekerjaan yang baik juga. Bukan asal menjadi tukang kayu saja, tetapi tukang kayu yang ahli. Untuk itu harus bersekolah dulu di sekolah teknik.” Arman senang mendapatkan mufakat. Di sekolah, ia memang suka mengerjakan prakarya atau tugas-tugas kerajinan. Nilai sering tinggi. Ia mantap melanjutkan ke sekolah teknik, menata diri bakal menjadi tukang kayu. Ia tak berani kebablasan menjadi presiden. Jawaban dan penjelasan Arman disahuti Irma. Bocah perempuan masih kelas tiga itu berujar ingin menjadi tukang jahit. Ah, cerita itu pantas disalin utuh untuk dibagikan ke presiden dan para pejabat ingin memajukan sekolah-sekolah kejuruan di seantero Indonesia.
Kita pertemukan cerita di buku pinjaman Orde Baru dengan buku cerita berjudul Kokom Naik Kelas gubahan Zainuddin Lubis dan gambar-gambar oleh Steve Kamajaya. Buku terbitan Balai Pustaka, 1977. Tipis, 40 halaman. Gambar di sampul buku menampilkan ibu dan bocah perempuan berpelukan. Di tangan si bocah, ada buku rapor. Pelukan menghasilkan bunga-bunga. Kita terkesima. Buku tak memiliki judul puitis. Judul biasa saja.  
Penulis cerita mempersembahkan buku ke anak-anak tercinta: Chomsiyah, Miftah, dan Adiyan Nur. Mana tiga anak itu tak digunakan dalam cerita. Zainuddin Lubis malah menamai para tokoh: Nunu, Orba, dan Kokom. Nama-nama aneh. Nama paling keren adalah Orba. Pengarang mungkin kagum dengan Soeharto atau rezim Orde Baru. Dulu, kita biasa mendapatkan akronim Orba untuk Orde Baru. Penamaan Orba diharapkan si bocah bakal pintar dan menjadi presiden. Ingat Orba, ingat Soeharto.
Kita selingi dulu mengutip masa sekolah Soeharto dalam buku susunan G Dwipayana dan Ramadhan KH berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989). Pada saat di sekolah rendah, Soeharto paling pintar di pelajaran berhitung. Ia pun rajin mengurusi tanaman alias bertani. Ia tak pernah mengalami peristiwa seperti di buku berjudul Bahasa Indonesia 3c: Membaca (1975). Soeharto lahir dan tumbuh di keluarga miskin. Situasi itu mengajari kesabaran, keberanian, dan kesungguhan. Jadilah ia tentara dan presiden. Ia tak pernah ingin jadi tukang kayu.
Nah, penamaan Orba di buku cerita terasa wajar untuk meneladani Soeharto. Di situ, Orba masih kecil, belum bersekilah. Orba suka main gasing. Kita tak tahu nama lengkap Orba. Kita menduga ia bernama lengkap: Orba Pemnas (Orde Baru-Pembangunan Nasional). Cerita bertokoh utama Kokom, bukan Orba. Kita jangan cerewet mengurusi Orba. Kokom itu anak sulung, sudah sekolah. Kokom kelas 2 SD. Kita jangan menuduh ia di sekolah bernama SD Sukaorba.
Zainuddin Lubis mengisahkan: “Kokom sudah mulai lancar membaca. Ia sangat senang membaca. Selesai ibunya sembahyang isya, dilihatnya Kokom sedang membaca komik. Orba dan Nunu duduk di dekatnya. Datang ibu menghampiri. ‘Kokom, tidak ada pekerjaan rumah?’ Tanya ibu. Kokom berhenti membaca dan berpikir sebentar, ‘Oh, Kokom hampir lupa.” Kokom lekas bertindak: mengambil tas, mengeluarkan buku dan alat tulis, merampungkan PR dari guru.  Kokom ingin bertanggung jawab. Tugas-tugas harus bisa diselesaikan dengan serius.
Kokom lega, PR sudah selesai. Ia masih hampir lupa. Ibu mengingatkan lagi: “Lalu, pekerjaan jahitan Kokom, sudah selesai?” Duh, Kokom harus mengurusi tugas jahitan sebelum tidur. Ibu masih melanjutkan: “Hati-hati, Kokom, sebentar lagi kenaikan kelas, bukan? Kalau kau tak naik akan disusul adikmu. Apakah kau tak malu.” Kokom berbeda dari Ima. Kokom masih kelas dua SD, belum berani sesumbar ingin menjaddi tukang jahit seperti Ima. Tugas itu saja belum berhasil diselesaikan. Gagal mengerjakan tugas bisa berakibat ke nilai dan kenaikan kelas. Kita membaca kalimat-kalimat ibu itu mengingatkan, masih jauh dari mengancam atau memberi ketakutan. Unsur mengejek juga tak ada. Ibu tentu mengerti kondisi kejiwaan Kokom dan memiliki pengharapan bahwa Kokom sudah mengerti tanggung jawab. Di rumah, peran ibu penting dalam membentuk pribadi dan memberi sokongan bagi kemajuan akdemik Kokom.
Kita mendapat adegan ibu-anak saat malam. Adegan tanpa bapak dan adik-adik. Kita bisa memberi tafsir dari gambar, dikuatkan dengan kalimat-kalimat. Kokom gelisah mengingat rapor kemarin memiliki dua angka merah: menulis dan prakarya. Ibu mengetahui Kokom melamun. Datang dan menenangkan. Kokom berucap: “Sekarang saya menyesal, Bu. Kokom takut tidak naik kelas. Doakan, Bu, Kokom naik kelas.” Kokom hampir menangis di malam sebelum esok penerimaan rapor di sekolah. Ibu mendoakan dan memberi nasihat. 
Pagi datag tapi semalam Kokom tak bisa tidur. Berangkatlah ia ke sekolah dengan berdebar. Menit demi menit, Kokom masih takut jika tak naik kelas. Di depan, Pak Guru memberi pengumuman bahwa semua murid naik kelas. Murid-murid lega, bertepuk tangan, dan mesem. Kalimat di buku: “Rapor si Kokom tidak ada merahnya lagi.” Kokom bukan murid pintar atau bodoh. Ia memiliki keinginan naik kelas, belum keinginan mendapat peringkat 1 di kelas. Di rapor, nilai enam ada 2, nilai delapan ada 3, nilai paling ramai adalah tujuh. Sampai di rumah, Kokom melapor pada bapak-ibu. Ketakutan sudhah berlalu. Kokom naik ke kels 3. Hore!
Di hari berbahagia, sekolah mengadakan pesta mengundang murid dan keluarga. Pesta berisi pentas-pentas. Ada pula orang-orang berjualan. Nunu minta mainan kursi. Orba minta tas. Ibu membeli sulaman taplak meja. Bapak dibelikan pipa tanduk. Lho! Pedagang di acara sekolah itu membahagiakan kaum perokok. Kita jangan marah dan protes. Masa lalu Indonesia memiliki cerita-cerita berterima dalam percakapan dan pemakluman, tak tergesa jadi demonstrasi, petisi, atau polemik di media sosial. Pada saat acara resmi, keluarga itu heboh mendengar pengumuman bahwa Kokom peringkat kedua. Lolos dari nilai-nilai merah, Kokom memiliki prestasi. Di acara hiburan, Kokom naik ke panggung membaca puisi bertema ibu. Ia mendapat tepuk tangan dari penonton dan aliran air mata dari ibu. Hari indah berakhir, keluarga bahagia itu pulang. Kokom merasa paling bahagia. Berakhirlah cerita dengan indah. Begitu.





Permainan dan Keharuan


Permainan dan Keharuan

Bandung Mawardi


Indonesia memiliki pengarang-pengarang rutin bercerita asmara, keluarga, identitas, kota, dan keperempuanan. Mereka bernama Marga T, Mira W, Maria A Sardjono, Ike Soepomo, dan La Rose. Ratusan novel telah mereka tulis untuk pembaca, dari masa ke masa. Orang mengingat mereka dengan novel-novel terbitan Alam Budaya, Pustaka Kartini, Cypres, Gramedia, dan lain-lain. Mereka cenderung menulis novel ke pembaca berusia dewasa atau di atas 17 tahun. Kita memastikan Indonesia adalah negara teraliri cerita oleh mereka, selain nama-nama tenar harus dihapalkan dalam perkembangan kesusastraan di Indonesia.
Kini, kita menghormati novel gubahan Maria A Sardjono. Novel untuk bacaan bocah. Pada 1981, terbit novel berjudul Sarang yang Aman. Di situ, terbaca nama pengarang: Maria A Sardjono. Novel diterbitkan oleh Rora Karya, Jakarta. Pada 1983, novel cetak ulang kedua dengan stempel pemerintah. Novel untuk bocah “tak boleh” kata-kata saja. Kita melihat gambar di sampul dan sekian ilustrasi di novel buatan Riyadi AS.
Kita mencoba ingin mengetahui biografi pengarang. Buku berjudul Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (1990) susunan Pamusuk Eneste tak memberi halaman untuk nama Maria A Sardjono. Kita pun membuka buku berjudul Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern (2009) susunan Pusat Bahasa. Kita tetap tak menemukan biografi Maria A Sardjono. Kita pasti menemukan pembahasan novel-novel gubahan Maria Sardjono di buku-buku Jakob Sumardjo, kritikus sastra menekuni novel-novel populer di Indonesia, dari masa ke masa. Para pembaca di Indonesia tetap menganggap Maria A Sardjono adalah pengarang tenar dan berpengaruh!
Jebakan ke pembaca dimulai dari sampul dan judul. Orang mengimajinasikan sarang mengarah ke binatang. Sarang untuk ayam atau burung. Imajinasi itu “dibenarkan” oleh gambar sarang burung di pohon. Lihatlah, pohon besar! Di dahan, ada sarang burung. Daun-daun berwarna hijau tak rimbun. Di bawah, dua bocah perempuan terlihat ceria. Di tanah berumput, mereka berdiri sambil membuat interaksi dengan pohon dan burung. Judul dan gambar di sampul saling “memastikan” bahwa novel bakal mengisahkan bocah, burung, dan alam. Di halaman daftar isi, pembaca mulai ragu membaca judul-judul bab: “Tetangga Baru”, “Anto Masuk Rumah Sakit”, Ruri dan Nanang Mendapat Adik”, “Keluarga Pak Hasan”, “Nani dan Nino”, “Sarang yang Aman”. Pembaca diminta bersabar untuk membuktikan judul dan gambar dan sampul di bab terakhir.
Nina dan Ani (kakak-adik) sedang bermain pasaran. Mereka terkejut melihat rumah di depan-seberang berbeda dari hari-hari kemarin. Pintu dan jendela rumah terbuka. Sejak tiga bulan rumah itu tertutup. Penghuni telah pindah rumah. Nina dan Ani penasaran. Mereka menduga rumah itu bakal memiliki penghuni baru. Deskripsi dari Maria A Sardjono: “Kedua gadis itu berlari-lari melintasi halaman rumah. Seekor ayam yang sedang mencari makan di dekat pagar rumah, terkejut dan melompat menjauh sambil berkotek-kotek. Tetapi, Nina maupun Ani tidak memperhatikan ayam yang lari terbirit-birit itu. Mereka terhenti di pinggir jalan. Niat keduanya untuk menyeberang gang di depan rumah mereka itu, hilang. Di halaman rumah seberang, teraling tanaman pagarnya, mereka melihat beberapa peti dan seperangkan perabot rumah. Di dekat barang-barang itu, berdiri lelaki sebaya ayah merek. Baik Nina maupun Ani belum pernah melihat orang itu.” Terbukti! Rumah itu memiliki penghuni baru.
Menit demi menit berlalu, mereka melihat pula seorang ibu dan dua bocah. Peristiwa lanjutan terjadi. Si ibu mengajak dua bocah itu menemui Nina dan Ani. Berkenalan! Nina dan Ani diperkenalkan dengan Ruri dan Nanang. Dua bocah itu kembar, perempuan dan lelaki. Empat bocah mulai memiliki gelagat berteman dan mengalami hari-hari ceria gara-gara bertetangga. Nina dan Ani mengajak Ruri dan Nanang ke rumah untuk berkenalan dengan adik mereka, Adi. Di rumah sebelah, ada bocah lelaki bernama Anto.
Kita diajak ke kancah pengalaman bocah berteman dan mengadakan permainan-permainan. Mereka membentuk diri dan saling mengenali melalui bahasa, gerak, dan kesadaran ruang-waktu di pengalaman bersama. Di halaman-halaman awal, kita di situasi bermain. Para pembaca buku filsafat pasti lekas ingat buku garapan Johan Huizinga mengenai homo ludens. Para penekun masa lalu juga berhak merenungkan bocah dan permainan melalui buku dokumentasi garapan Hermanu-Bentara Budaya Yogyakarta berjudul Lir-Ilir. Bocah mengawali biografi dengan bermain, bermain, bermain. Bocah mengartikan diri, sesama, dunia, dan pelbagai hal melalui permainan (sering) bersama. Di permainan, mereka belajar kebahasaan, etika, estetika, kebersamaan, konflik, dan keberanian. Maria A Sardjono tampak mengerti kancah pengalaman bocah dengan memberi halaman-halaman mengisahkan mereka bermain, bukan sodorkan adegan melulu bersekolah alias belajar. Bocah-bocah itu berusia 7-11 tahun.
Sejak bab awal, pembaca digoda memikirkan lagi makna bertetangga. Makna tak usah dicari di buku-buku sosiologi tapi di petikan novel saja. Ibu Nina kaget melihat ada dua bocah main ke rumah. Ruri dan Nanang disambut hangat dan diajak bergirang. Sang ibu mengaku “senang sekali”. Adegan buatan Maria A Sardjono: “Bergegas perempuan itu masuk ke dalam kembali. Tatkala dia keluar lagi, di tangannya ada sepiring kue kering. Di belakangnya, Iyem pembantu rumah tangga mereka membawa baki berisi lima gelas es sirop berwarna kuning muda. Nina dan Ani bersorak gembira.” Ingat, kue kering di piring, tak berada dalam kaleng. Rumah Nina dan Ani belum pamer gengsi dengan suguhan berkaleng. Di piring, suguhan tetap pantas dan lezat. Suguhan disampaikan ibu bermaksud “menyambut tetangga baru kita yang manis-manis.” Peristiwa memiliki tetangga baru diartikan bersama dengan sukacita.
Bermain! Novel memang bertokoh bocah dan memihak ke bocah. Kelucuan dan ketegangan tersaji di bab kedua. Kutipan panjang tentang bermain bersama: “Minggu itu mereka berkumpul di depan rumah Nina. Mereka sedang bermain jual-jualan. Anak-anak lelaki ikut bermain bersama dengan gembira sebab barang yang dijual Nina bukan makanan yang terbuat dari daun-daun ataupun bunga seperti biasanya. Nina berjualan kue-kue dan buah-buahan. Ibu yang memberikannya. Dan anak-anak lain boleh membeli makanan-makanan itu dengan uang-uangan dari potongan kertas koran. Melihat kue-kue yang enak buatan ibu Nina itu, Anto tidak mengganggu seperti biasanya. Bahkan dalam sakunya terdapat guntingan-guntingan kertas koran untuk membeli kue-kue itu. Tentu saja Nina tidak mau melayaninya terus-menerus.” Makanan asli tapi duit palsu. Anto bergairah jadi pembeli alias “serakah” ingin makan kue dan buah dari pembelian menggunakan uang palsu. Nah, Nina sebagai pedagang jadi “marah”. Anto dianggap curang. Para bocah memiliki hak sama tapi Anto nekat ingin terus membeli setiap detik.
Anto berlaku sombong: mengaku memiliki duit. Ia adalah pengusaha berhak membeli apa saja. Nina mengejek bahwa semua itu uang kertas palsu. Anto tak berhak belanja sampai perut jadi gendut. Pertengkaran atau saling ejek tiba-tiba berhenti saat Anto melihat ada layang-layang terbang dekat genting rumah. Nanang pun melihat. Dua bocah segera berlari ingin mendapatkan layang-layang. Di hitungan detik, peristiwa buruk terjadi. Di luar, terdengar derit rem sepeda motor dan teriakan-teriakan. Tabrakan! Anto terkapar di jalan dengan kondisi tubuh berdarah. Anto menangis keras. Bocah-bocah berkerumun tampak sedih.
Novel jadi pengajaran. Kita mendapat sisipan pengajaran dunia batin bocah. Maria A Sardjono menulis: “Bagaimana pun nakalnya Anto, mereka semua tidak pernah membencinya. Mereka bertentangga dengan Anto sudah semenjak mereka masih kecil sekali. Bahkan sebelum Adi adik mereka lahir, Anto sudah menjadi kawan sepermainan Nina dan Ani. Melihat Anto terkapar kesakitan dengan darah bersimbah di kakinya, Nina dan Ani tidak tahan melihatnya.” Empati berlaku di pertemanan bocah. Semula, kita mendapatkan permainan lucu tapi disusul kejadian buruk. Pengarang sengaja mengurutkan kejadian agar pembaca mengerti dunia (perasaan) bocah saat bersama dan mengetahui ada peristiwa memicu rasa bersalah dan empati.
Pada suatu hari, ada ungkapan lucu dari Adi, setelah turut bermain di rumah Ruri dan Nanang. Pulang ke rumah, Adi berkata pada bapak-ibu: “Bu, barangkali Bu Herman sakit perut!” Bu Herman itu ibu Ruri-Nanang. Kalimat itu membuat bapak-ibu kaget. Adi masih kecil tapi memiliki pengamatan serius. Ungkapan sakit perut berdasarkan penglihatan ke perut Bu Herman: perut besar. Bapak-ibu mesem tapi tak mengejek. Mereka paham keluguan Adi. Perut besar belum dimengerti Adi sebagai kehamilan. Ibu menjelaskan: “Bu Herman tidak sakit perut, Adi. Bu Herman sedang mengandung bayi. Ruri dan Nanang akan mendapat adik sebentar lagi!” Eh, Adi tak mengerti pula arti “sebentar”. Ia menganggap sebentar itu “nanti sore” atau “besok”. Ibu mesem lagi.
Adi melanjutkan omongan minta adik kepada ibu. Ia ingin memiliki adik. Ani pun mengaku ingin adik. Nina turut bersepakat ingin memiliki adik. Bertiga kompak! Pembaca mungkin tak menduga bahwa peristiwa itu dimaksudkan menjelaskan KB oleh pengarang. Ah, seruan pemerintah tiba-tiba datang di cerita! Penjelasan diberikan bapak. Kita menduga itu sesuai petunjuk pemerintah bahwa kepala keluarga berkewajiban membenarkan program KB dan berperan jadi juru penerang. Kita ikut mendengar agak ikhlas: “Anak-anak, kalian harus tahu bahwa dunia yang kita tempati ini sekarang sudah penuh sekali dengan manusia. Begitu juga di negara kita ini. Terutama di pulau Jawa. Setiap tahun penduduk di dunia ini bertambah. Dapat kau bayangkan itu anak-anak? Cobalah pikirkan, apa saja akibat dari pertambahan jumlah penduduk yang semakin banyak itu?” Cerita mirip salinan pidato pejabat atau petugas KB. Cerita juga berisi salinan pelajaran. Adi menjawab: “Tanah menjadi sempit!” Jawaban Ani: “Makanan jadi berkurang!” Keluarga itu berisi bapak, ibu, dan tiga bocah pintar. Keluarga teladan di Indonesia. Perkara minta adik memicu pembuktian keluarga pintar.
Kita masih mengutip ceramah bapak agar semakin mengerti keampuhan indoktrinasi di masa Orde Baru. Isi ceramah penting bagi kita asal mau berpikir tenang dan kritis. Ceramah bapak membuktikan kemampuan menerima dan mengolah pesan pemerintah, pendapat ahli, dan simak berita. Kita menduga bapak rajin membaca koran, menonton siaran berita di televisi, dan mengikuti percakapan-percakapan bermutu di kantor atau kampung. Kita buktikan: “Dengan bertambahnya penduduk, kita semua harus bekerja dan belajar semakin giat untuk mengatasi segala kesulitan yang ditimbulkannya. Pembangunan di segala bidang harus ditingkatkan. Membangun sekolah-sekolah yang lebih banyak, dan sarana-sarana lainnya seperti rumah sakit, transportasi dan lain sebagainya. Kalian semua tentu tahu bahwa mengatur manusia sedikit dengan manusia banyak lebih sukar mengatur yang banyak. Jangan sampai kelak kalau bayi-bayi yang lahir itu menjadi dewasa, lapangan kerja menjadi sempit karena banyaknya manusia yang membutuhkan pekerjaan demi nafkah hidupnya. Sedikit-sedikit kau sudah tahu apa akibatnya kalau manusia semakin bertambah banyak. Dunia bukan saja akan kekurangan pangan, tetapi juga terancam banyak bencana alam oleh perbuatan manusia sendiri seperti banjir, tanah longsor, pengotoran udara dan banyak lagi. Itulah sebabnya pemerintah menganjurkan keluarga berencana. Sebaiknya tiap keluarga rata-rata hanya mempunyai dua atau tiga orang anak saja!” Ceramah sakti itu disampaikan ke bocah, bukan peserta seminar nasional. Kita maklumi saja demi keberterimaan novel di alur kebijakan pemerintah dan mengajari bocah-bocah seribu masalah besar di Indonesia.
Kita selingi ceramah bapak dengan membaca artikel ringan bertema tekanan penduduk garapan Masri Singarimbun (Direktur Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada). Artikel berjudul “Masalah Urbanisasi” dimuat di majalah Si Kuncung nomor 36, 1980. Artikel dibaca bocah menggunakan bahasa diusahakan sederhana. Masri Singarimbun menjelaskan: “Desakan yang terus-menerus di desa-desa, langkanya pekerjaan di daerah-daerah pertanian, menyebabkan para remaja banyak yang meninggalkan desa menuju ke kota-kota. Macam-macam saja alasan mereka pergi ke kota. Ada yang semula sekolah tapi akhirnya enggan pulang ke kampung. Ada yang sengaja datang ke kota untuk mencari pekerjaan. Yang jelas, kota lebih gemerlapan. Kota dengan segala daya tariknya yang lebih besar. Iklan-iklan teve yang dewasa ini sudah masuk ke pelosok-pelosok desa, membuat orang lebih bergairah ke kota.” Kita sudahi kutipan dengan pengertian bahwa masalah pendudukan memang “gawat” pada masa 1980-an. Novel garapan Maria A Sardjono dan artikel dari Masri Singarimbun anggaplah bukti terbaca untuk direnungkan pembaca masih mau berpikir seru.
Akhir dari cerita persembahan Maria A Sardjono ada di bab terakhir. Novel 56 halaman itu berhikmah di ujung. Ruri dan Nanang memiliki adik kembar bernama Nani dan Nino tapi ibu meninggal, sekian hari setelah melahirkan. Empat anak itu turut diasuh ibu Nina. Kita simak: “Ibu tidak hanya memberi rasa aman kepada anak-anak kandungnya sendiri saja, tetapi juga kepada anak-anak lain yang membutuhkannya.” Rumah dihuni ibu, bapak, Nina, Ani, dan Adi menjadi rumah pula bagi empat bersaudara: Ruri, Nanang, Nani, Nino. Semua turut diasuh ibu. Dua kalimat terpenting di novel agar kita mengerti judul dan gambar di sampul: “Yah, rumahnya memang bagai sarang yang aman. Keamanan dan perlindungan yang juga siap melindungi anak-anak burung lain yang kehilangan induknya!” Pembaca pun terharu. Begitu.   


Thursday, June 13, 2019

Telat dan Tabah


Telat dan Tabah

Bandung Mawardi


Gambar di sampul, gambar mendebarkan dan gampang memberi salah paham. Bocah perempuan, anjing, dan sumur. Bocah itu berlari ke arah sumur. Di belakang, anjing tampak mengejar. Apakah bocah itu melintasi sumur atau berhenti di atas bibir sumur? Bocah itu terjatuh ke sumur? Mengapa anjing itu mengejar? Pilihan gambar di sampul mungkin mengawali kerancuan pembaca, setelah membaca judul di bagian bawah: Si Kidal. Gambar itu mustahil mampu menjelaskan judul! Gambar dikerjakan oleh Sulistyo. Di hadapan buku cerita berjudul Si Kidal (1977) gubahan Satmowi terbitan Pustaka Jaya, para pembaca boleh cemberut duluan sebelum membuka dan menghabiskan 40 halaman.
Buku tipis, buku membikin meringis. Pengarang membuat tokoh bernama Tribono, dipanggil Kid. Lho! Panggilan gara-gara Tribono sering mengerjakan pelbagai hal dengan tangan kiri alias kidal. Resmilah ia mendapat sebutan Kidal, bukan penghinaan. Kidal itu ada di gambar sampul? Bukan! Tokoh di sampul itu teman Kidal. Judul buku Si Kidal tapi tokoh tak dimunculkan sejak awal di sampul. Penerbit memiliki kebijakan-kebijakan tanpa harus menuruti tebakan atau kemauan pembaca. Tribono itu lelaki, bukan perempuan. Di sampul, bocah berlari itu mengenakan rok. Orang-orang di Indonesia mengenali lelaki tak terbiasa mengenakan rok untuk sekolah atau lari pagi.
Pengenalan tokoh disampaikan pengarang di halaman awal, sebelum halaman-halaman cerita. Pengarang ingin pembaca cepat mengenali karakter tokoh ketimbang di tengah membaca masih saja penasaran. Gambar si tokoh pun lekas dimunculkan tapi membingungkan pembaca. Ia dikatakan kidal tapi di gambar Kidal memegang amplop dengan tangan kanan. Ah, kita terlalu ribut! Buku cerita untuk bocah-bocah SD. Tokoh-tokoh di buku adalah murid-murid kelas 5 SD di suatu tempat.
Pengarang mengenalkan tokoh: “Namanya Bono, lengkapnya Tribono. Tetapi kawan-kawannya yang lebih besar memanggilnya ‘Kid’ dan yang lebih kecil ‘Mas Kid’. Dan mereka memanggilnya demikian bukan tanpa alasan. Itu karena ia lebih banyak mempergunakan tangan kirinya daripada tangan kanannya. Dan Bono tidak berkeberatan dipanggil demikian. Baginya hal itu bukan persoalan lagi. Mungkin karena sudah  terbiasa, dan mungkin juga karena ibunya sendiri memanggilnya demikian.” Bocah pantang minder gara-gara panggilan. Pemberian nama lengkap oleh orangtua berlaku di formulir atau dokumen resmi saja. Keseharian di rumah dan sekolah, nama lengkap absen tergantikan Kidal. Bocah itu menerima tanpa protes dengan menangis dan marah-marah.
Di Indonesia, kita masih memiliki anggapan-anggapan bereferensi agama dan adat. Sekian orang menganut kesopanan itu kanan. Penggunaan tangan kanan untuk melakukan sekian hal mengartikan sopan dan lazim. Sejak kecil, pembiasaan menggunakan tangan kanan diajarkan orangtua dan guru. Bocah diharapkan saat makan menggunakan tangan kanan untuk memegang sendok. Perbuatan memberikan sesuatu ke orang lain atau bersalaman tentu memilih tangan kanan. Belajar menulis dengan pensil pun dianjurkan dengan tangan kanan. Segala kanan sudah hampir doktrin.
Orang-orang saat melihat bocah memilih sering menggunakan tangan kiri bakal memberi peringatan atau kemarahan. Mereka anggap penggunaan tangan kiri itu “jelek” alias “tak sopan”. Memandang orang mengerjakan sesuatu dengan tangan kiri menimbulkan keanehan. Sangkaan-sangkaan diberikan sering merendahkan, bukan memberi tenggang rasa. Kiri itu bermasalah. Tuduhan orang-orang itu gampang disangkal jika membaca buku berjudul Ragawidya garapan YB Mangunwijaya. Sejak mula, tangan itu bergerak dan bermakna untuk hidup dengan kemuliaan, kebaikan, dan kebersamaan. Tangan memiliki hak menunaikan ibadah, kerja, atau perbuatan mendasarkan pada misi-misi manusia mengerti Tuhan, alam, dan sesama. Kidal belum pernah membaca Ragawidya tapi mengerti kecenderungan memilih tangan kiri tak harus dinilai keburukan, aib, dan dosa.
“Keburukan” Kidal bukan di tangan tapi kegagalan mengerti waktu. Ia itu bocah telatan. Ingat, telatan, bukan teladan! Ia sering terlambat ke sekolah. Guru rajin marah. kidal rajin lupa dengan pesan guru. Hukuman demi hukuman diberikan agar Kidal tobat. Hukuman dan tawa-mengejek teman-teman tak mempan. Kidal tetap saja terlambat atau telat tanpa merasa terlalu bersalah. Keburukan itu sulit dihapus dalam hitungan hari. Kidal mengaku salah tapi selalu kehilangan pegangan waktu dalam ikhtiar mengubah kebiasaan. Guru pernah berpesan ke Kidal berkaitan teladan, bukan telatan: “Gurunya sudah sering berkata kepadanya bahwa sebenarnya ia dapat menjadi anak teladan, seandainya ia mau sedikit berusaha dan menghilangkan sifat malasnya.” Duh, bocah telatan gagal teladan. Kidal itu bukan murid pintar. Eh, pengarang tetap mengisahkan Kidal memiliki kebaikan, keampuhan, dan kehormatan.
Di mata teman-teman, Kidal itu sering membuat sebel dan ngangeni. Di depan kelas, Kidal pasrah saat dimarahi guru: “Sudah lebih tiga kali dalam minggu ini kau datang terlambat ke sekolah. Dan untuk selanjutnya, bila kau tetap juga datang terlambat maka kau dilarang memasuki ruang kelas.” Kidal tanpa pembelaan. Satu kata tak terucap. Ia memang bersalah. “Matanya dan bibirnya bergerak seperti mau berkata, tetapi tak jadi,” tulis Satmowi. Kidal itu lugu tapi ndablek.
Ia harus pergi dari kelas. Hukuman agak berat! Di hati, ia ingin belajar bersama teman-teman, dari pagi sampai siang. Di sela pelajaran atau waktu istirahat, Kidal ingin bermain girang bersama teman-teman. Angan tak kesampaian. Ia harus pergi. Pulang ke rumah tak enak. Kidal berjalan tanpa tujuan jelas. Sampailah ia ke pasar! Menit-menit pun cepat berlalu. Ia sempat menonton pentas sandiwara digelar penjual obat di pasar. Kidal atau Bono sudah hapal dengan sandiwara sering membuat orang-orang tergoda membeli obat. Duh, obat tanpa resep dokter. Obat membatalkan seruan: “obat bisa dibeli di toko terdekat”.
Di situ, Kidal berbuat kebaikan. Ada bocah tersesat, terpisah dari orangtua. Orang-orang ribut dan saling usul tanpa tindakan. Kidal mendekati si bocah. Eh, Kidal melihat bocah itu memegang kertas. Kertas itu amplop surat. Kidal dengan sopan meminta dan membaca tulisan di situ. Di bagian belakang, terbaca alamat pengiri. Kidal menduga pengirim adalah ibu si bocah tersesat. Kidal tak memerlukan setengah jam untuk berpikir. Bocah itu lekas diantar pulang sesuai alamat di amplop. Selamat! Bocah itu sampai rumah. Pada hari buruk terusir dari kelas, Kidal masih mungkin berbuat kebaikan: menjadikan hari tetap bermakna.
Sial masih milik Kidal di keesokan hari. Ia berhasil sampai sekolah tanpa telat. Aduh, ia diminta lagi berdiri di depan kelas. Deskripsi dari pengarang: “Keesokan harinya, Bono disuruh lagi berdiri di muka kelas karena tak membuat pekerjaan rumah. Pak Iwan tak mau menerima alasan bahwa ia tak mengerjakan pekerjaan rumah itu karena ia kemarin disuruh pulang. Ia tak tahu bahwa ada pekerjaan rumah dan ia pun tak menanyakan pada teman sekelasnya.” Sekolah itu sumber sial bagi Kidal. Ia sulit “benar” dan “baik”. Di jalanan dan pasar, Kidal malah sanggup membuat keputusan dengan dalil-dalil kebaikan tanpa kaidah seperti di buku pelajaran atau khotbah guru.
Di kelas, Kidal adalah murid kalahan, korban ejekan dari teman-teman, terutama Tunggadewi. Pembaca mungkin terharu mengikuti cerita Kidal. Empati pantas diberikan agar Kidal bertahan hidup dalam cerita. Pada suatu hari, Kidal berhasil menghuni kelas tapi “merana”. Ada sedikit peristiwa perbantahan antara Tunggadewi, Kidal, dan teman-teman. Kidal pasti kalah. Satmowi menulis: “Kidal tahu ia selalu kalah kalau harus berperang mulut dengan Tunggadewi. Tak seorang pun yang mampu mengalahkan Tunggadewi dalam berperang mulut dan saling ejek. Semua anak-anak tertawa ketika Tunggadewi berkata, ‘Sana masuk saja ke dalam kelas dan menggambar kepala wayang.’ Anak-anak bertepuk riuh ketika Kidal benar-benar masuk kelas dan menggambar kepala Dorna di papan tulis.” Ah, bocah itu tak mau melawan untuk meraih menang meski sekali saja. Pengarang keterlaluan dalam penokohan Kidal! Kita malah penasaran dengan kekalahan Kidal. Kalah dimaknai dengan menggambar tokoh wayang. Mengapa ia memilih tokoh Dorna dalam epos Mahabharata?
Hari demi hari di sekolah, Kidal terus kalah. Ia malu menangis atau mutung. Kalah itu lumrah. Pilihan menikmati kekalahan membuat Kidal menjadi bocah paling tabah. Ia menganut tawakalisme! Pada suatu musim bermain layang-layang, Kidal mengajak Hadi berdagang layang-layang. Perbuatan mendapat untung. Kebahagiaan dua bocah itu mendapat gangguan dari Tunggadewi. Adegan “perampokan” terjadi di kelas. Tunggadewi memaksa Hadi memberikan duit untuk membeli jajanan bakal dibagikan ke teman-teman.
Ah, lelaki jadi korban permainan kata Tunggadewi: “Yang penting kau sekarang sudah menjadi salah seorang pengusaha layang-layang. Bukan maksud kami agar kau membelikan kami makanan, atau kau bagi pula kami. Samasekali bukan. Tetapi ada baiknya juga kau mengetahui bahwa kami kini telah mengantuk. Kantuk mungkin dapat kami tahan, tetapi pelajaran terakhir pasti akan sukar dapat kami tangkap. Kau tahu sendiri orang mengantuk dan setengah lapar itu biasanya sukar sekali untuk dapat menerima pelajaran, bukan.” Ribuan kalimat, eh, puluhan kalimat diucapkan Tunggadewi mengandung ancaman dan muslihat. Tunggadewi menang merampok Hadi. Kidal atau Bono mengetahui tapi memilih diam. Ia tetap saja menggambar kepala Begawan Dorna.
Kalimat-kalimat terindah dari Tunggadewi menjadikan aksi merampok itu puitis dan bijak. Kidal menguping saja omongan si pemenang kepada Hadi setelah memberikan duit: “Kau memberikannya dengan ikhlas atau tidak, kami tidak tahu. Tetapi kami tahu bahwa seseorang yang memberikan sesuatu tanpa disertai hati yang ikhlas adalah orang paling tak berbahagia. Semoga engkau memberikannya dengan hati yang ikhlas dan aku akan menerimanya. Terima kasih, demikian juga teman-teman lainnya. Kau telah mengusir rasa kantuk dan rasa lemas kami...” Pengarang sungguh mahir memberi bahasa ke tokoh. Di aksi perampokan, ajaran bijak disampaikan seperti dituturkan oleh orang dewasa. Pembaca sempat terpukau. Hadi dikalahkan tapi mendapat nasihat bijak.
Pada menit berbeda saat murid-murid pulang, Kidal berjalan bersama Hadi. Perampokan itu membuat teman-teman sekelas girang. Hadi merasa bersalah tiada terkira. Di perjalanan pulang, ia menunduk lesu dan malu. Kidal ingin memulihkan keadaan. Berkatalah Kidal dengan santun untuk sahabat alias pasangan dalam bisnis menjual layang-layang: “Hadi yang malang, kau telah dirayu olehnya. Tunggadewi adalah seorang perayu yang ulung. Jangan lupa itu. Anggap saja kejadian ini sebagai pelajaran bagimu...” Kidal dan Hadi, dua bocah dikalahkan Tunggadewi. Mereka tabah alias senasib sepenanggungan. Mereka tak marah atau ingin membalas dendam. Nasib sial diterima tanpa sambat dengan kata-kata bisa ditata meninggi sampai ke langit. Pembaca mulai mengerti bahwa buku itu tak melulu bercerita Kidal tapi memberi kejutan dengan pengisahan Tunggadewi. Penjudulan mungkin salah, setelah salah memasang gambar di sampul. Begitu.   



 

Berkisah Rumah, Petuah ke Bocah


Berkisah Rumah,
Petuah ke Bocah

Bandung Mawardi


Umat sastra di Indonesia mengingat buku puisi Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Rendra, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, Afrizal Malna, Oka Rusmini, Joko Pinurbo, dan lain-lain. Sekian orang sulit mengingat buku puisi berjudul Puisi Rumah Kami (1984). Buku tipis tapi manis. Buku terbitan Danau Singkarak semakin sulit dimengerti umat sastra gandrung buku puisi. Mereka ingat penerbit buku puisi adalah Balai Pustaka, Pembangunan, Pustaka Jaya, Bentang, Gramedia Pustaka Utama, dan lain-lain.
Buku itu berisi 30 puisi gubahan K Usman. Di kalangan sastra berumur tua, K Usman itu pengarang penting untuk bacaan bocah dan dewasa. Puluhan buku sudah ditulis dan terbit. Puisi Rumah Kami itu bacaan untuk bocah. Pada 1984, buku itu mula-mula diterbitkan Cypress mendapatkan penghargaan buku terbaik bidang puisi oleh Yayasan Buku Utama. Kalimat resmi dari Yayasan Buku Utama kepada K Usman: “Kami mengucapkan selamat atas hasil karya saudara. Yayasan Buku Utama akan memberikan kepada saudara hadiah berupa uang sebanyak Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan piagam penghargaan. Penyerahan hadiah akan diberitahukan kemudian. Semoga putusan Yayasan Buku Utama ini dapat saudara terima dengan ikhlas dan gembira.”
Lembaran resmi memang dipasang di buku Puisi Rumah Kami. Dokumentasi di kehormatan K Usman sebagai pengarang puluhan buku bocah. Ketekunan dan capaian membuktikan pengadaan bacaan anak memang harus bermutu dan berkesinambungan. K Usman mendapat hadiah diberi pesan agar “ikhlas dan gembira”. Kita mengandaikan hadiah itu menghidupi. Duit dan piagam memberi rangsangan membesar dalam penulisan lagi buku-buku beredar di seantero Indonesia melalui Inpres atau penerbit partikelir di jalur umum. Buku mengakibatkan gembira, bukan keluhan setinggi pohon kelapa. K Usman tak cuma sekali mendapat penghargaan. Ia pantas dihormati dan tercatat di ensiklopedia bacaan anak Indonesia. Ia adalah pemberi petuah rumah ke bocah.
Tiga puluh puisi untuk bocah, tak pantas dibandingkan dengan puisi-puisi gubahan para pujangga legendaris dibaca kaum dewasa. Kita menduga taka da sebiji puisi di buku berjudul Puisi Rumah Kami dipilih untuk lomba-lomba deklamasi tingkat SD, dari masa ke masa. Panitia sering memilih puisi “dewasa” dipaksa dibaca oleh bocah-bocah tanpa mengerti maksud atau kesesuaian selera-tingkatan berbahasa. Puisi-puisi gubahan K Usman “enak” terbaca dan tak merepotkan pembaca dalam mengerti pesan atau bujukan imajinatif. Ia bukan pujangga mendadak tapi memiliki kaidah-kaidah dengan kesadaran bakal jadi bacaan bocah.
Puisi-puisi berpusat di rumah. Pilihan tempat itu mengembalikan pengalaman dan pemaknaan rumah. Pengindahan terjadi di puisi. Kita simak puisi berjudul “Tanaman Penting di Sekeliling Rumah.” K Usman membuat kita cemburu ingin memiliki rumah indah: Cabai, kunyit, dan serai/ Ditanam ibu di belakang rumah/ Singkong, ketela, dan papaya/ Ditanam ayah di kebun tengah// Adik memelihara melati di sisi pagar/ Setiap pagi bunganya mekar/ Aku menanam mawar di kebun kiri/ Harumnya semerbak pagi hari. Keluarga bertanam untuk pangan dan pemandangan. Keren! Puisi mengingatkan sindiran Frits W Went dalam buku berjudul Tetumbuhan (1982): “Sayang, makin tinggi peradaban kita, makin jauhlah kita dengan tetumbuhan, dan makin kaburlah pengetahuan kita mengenai botani. K Usman masih mengisahkan rumah dan tanaman, kisah sulit mewujud di masa sekarang. Rumah-rumah abad XXI cenderung tak lagi membuat makna bersama tetumbuhan.
Tema terlupa saat bacaan bocah “terperintahkan” harus mengandung pesan moral. Puisi-puisi gubahan K Usman menuntun pembaca menuju rumah. Perbedaan bentuk atau tampilan rumah dengan pembaca memberikan dalih mengerti kebermaknaan rumah di Indonesia dalam urusan arsitektur, sosiologi, religiositas, ekologi, ekonomi, dan lain-lain. Rumah dalam buku K Usman mungkin berada di Jawa. Rumah memiliki pengertian bertopang adat. Rumah bukan sekadar bangunan. Bocah-bocah membaca puisi-puisi mengenai rumah bakal termenung, terkejut, dan terkesima.
Puisi berjudul “Jendela” terbaca sederhana tapi mengejutkan bagi bocah mulai disuguhi gambar rumah-rumah khas pengaruh Eropa di buku pelajaran atau pengamatan melihat rumah-rumah di desa dan kota masa Orde Baru mulai meninggalkan ajaran leluhur. Rumah di puisi itu terceritakan melalui jendela: Empat jendela dipasang tukang/ Di sebelah kiri rumah/ Semua menghadap ke matahari pagi/ Bukan tak ada maknanya, kata ayah/ Sebab, dari sana mengalir rezeki// Empat jendela dipasang tukang/ Di sebelah kanan rumah/ Semua menghadap ke matahari senja/ Sebab, dari sana kami menyaksikan/ Bola dunia kembali ke balik bumi. Dua bait memberi pelajaran baik. Ingat, bukan melulu moral! Penghuni rumah membentuk pengertian dengan jendela: jumlah dan arah. Pembaca juga terhindar dari kalimat sudah menjemukan berkaitan jendela dan buku-ilmu. Jendela itu pengajaran ke bocah jangan selalu dikaitkan slogan telah usang.
Puisi mengajak bocah menugasi diri membuka dan menutup jendela. Peristiwa rutin harian itu diimbuhi keinginan membuat makna dari tatapan ke matahari, pohon, langit, binatang, dan lain-lain. Di jendela, bocah merasakan angin, waktu, dan suasana. Di situ, ia mengalami dengan keluguan. Bocah di jendela belum tentu kelak bakal jadi penulis puisi, novel, dan lirik lagu. Lakon mutakhir mungkin membuat bocah kehilangan pengalaman berjendela. Di sekian rumah gagah dan sangar, jendela sering ditutup rapat. Jendela dimengerti jalan kedatangan debu dan angin membikin sakit.
Di luar rumah, pembatas atau pagar dibuat dari bambu. Keluarga itu tak memiliki duit membuat pagar dengan batu bata atau besi. Pilihan ke bambu pun bijak menuruti kemauan manusia dan alam. Puisi berjudul “Pagar Bambu”, puisi mengingatkan agar membangun pagar jangan boros dan menghalangi bertetangga. Pagar di abad XXI malah membuat rumah itu mirip penjara. Pagar tinggi dan menutup pemandangan sengaja merusak wajah rumah dan menuduh ke orang-orang bakal jadi pencuri.
K Usman menulis: Pagar bambu, kuning dan kukuh/ Bambu disebut juga buluh/ Bambu tumbuh di dalam kebunku/ Bambu melindungi rumahku// Dari pintu kulihat rumpun bambu/ Rimbun daun meneduhkan halamanku/ Akar-akarnya mengukuhkan tanahku/ Rebung atau bambu muda disayur ibuku/ Bambu, aku berterima kasih kepadamu. Puisi bersahaja mengabarkan manusia dan bambu bersekutu di desa subur dan damai. Di desa, pagar bukan kesombongan atau dalih menutup diri penghuni rumah dalam pergaulan sosial. Kini, orang sengaja membuat pagar-pagar pamer ketakutan, kebebalan, kesombongan, dan kebrengsekkan. Puisi gubahan K Usman itu ingatan.
Kita tambahi dengan membaca puisi gubahan Sindhunata berjudul “Ngelmu Pring” dimuat dalam buku Air Kata-Kata (2003). Puisi berbahasa Jawa mengisahkan bambu atau pring, renungan enteng tapi penting: Pring padha pring/ Eling padha eling/ Eling dirine/ Eling pepadhane / Eling patine/ Eling Gustine. Bermula dari bambu, manusia merenungi diri, sesame, kematian, dan Tuhan. Puisi itu pernah terdengar gara-gara disajikan oleh Jogja Hip Hop Foundation. Faedah bambu: lincak asale pring/ pager asale pring/ usuk asale pring/ cagak asale pring/ gedhek asale pring/ tampar asale pring/ kelo asale pring/ tampah asale pring/ serok asale pring/ tenggok asale pring/ tepas asale pring. Bambu menjadi apa saja digunakan dalam kehidupan kita di keseharian.   
Religiositas (di) rumah dirasakan pembaca saat menikmati puisi berjudul “Tikar Sembahyangku”. Di samping puisi, sehalaman berisi gambar ibu dan bocah perempuan sedang menunaikan salat. Gambar buatan Ipe Maaruf. Kita memilih membaca puisi ketimbang menikmati ilustrasi. Kata-kata sanggup bercerita. Suasana religius terhubung ke kebersamaan keluarga. Kita sampai ke puisi berjudul “Ruang Keluarga”. K Usman mengajukan keluarga sederhana dengan rumah tak sesak oleh benda-benda. Rumah belum memiliki meja dan kursi. Kita membaca: Di ruangan ini kami makan bersama/ Di ruangan ini kamu duduk bersila/ Sebab rumah kami belum mempunyai/ Kursi untuk ruangan ini/ Kami duduk sama rendah di sini/ Di atas pandan anyaman ibu kami. Tikar khas milik keluarga tak berkelimpahan duit. Kini, tikar itu klasik. Di rumah-rumah abad XXI, kita mulai melihat karpet menggantikan tikar dibuat dari tetumbuhan.
Puisi sosiologis disodorkan K Usman berjudul “Tetangga”. Puisi penting diajarkan di sekolah dan rumah. Bocah memerlukan ilmu tetangga, sebelum ia mengurung diri di rumah: menonton televisi dan bermain gawai. Puisi dari masa lalu tentu sulit memikat ke pembaca masa sekarang. Pengisahan K Usman: Tetangga mendengar denting piring kita/ Tetangga melihat pintu dan jendela kita/ Tetangga mengetahui masalah gawat kita/ Kita dan mereka tak mungkin berpisah// Tentang tetangga sebaiknya dikenang-kenang/ Pada mereka kita berbagi susah dan senang/ Dengan tetangga sebaiknya berbagi rasa/ Pada mereka kita titipkan suka dan duka. Peneliti asing atau ahli Indonesia bisa mengutip puisi “Tetangga” untuk mengerti kehidupan sosial di Indonesia abad XXI. Makna tetangga perlahan berkurang oleh pelbagai hal. Tetangga itu masalah besar dalam sosiologi masih diajarkan di sekolah dan universitas.
Kita akhiri pengembaraan ke halaman-halaman buku K Usman. Puisi terakhir terbaca berjudul “Puisi Rumah Kami”. Puisi memuncak ke makna rumah, melegakan bagi pembaca: Rumah Kami sederhana saja/ Sekitarnya pohon-pohon berbuah/ Sekitarnya bunga-bunga merekah/ Di atasnya burung-burung terbang merdeka. Bait terbaca di halaman terakhir, halaman 70. Kita menganggap buku itu penting banget dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama atau komunitas kecil, berharapan ada pengajaran rumah ke bocah-bocah mulai jarang di rumah gara-gara sekolah dan semakin tak memiliki makna rumah. Buku itu membikin cemburu. Begitu.


Thursday, May 30, 2019

Baca(an) dan Menghibur


Baca(an) dan Menghibur

Bandung Mawardi


Pada suatu masa, Ibu Sud menggubah lagu dengan judul panjang: Aku Anak Indonesia Penerus Pembangunan Tanah Airku. Sejak masa 1920-an, Ibu Sud jarang membuat judul panjang untuk ratusan lagu. Judul panjang itu mungkin berkaitan deru pembangunan nasional di masa Orde Baru. Lirik di lagu: Kami putra putri Indonesia/ bertekad bulat teguh berjanji/ menuntut ilmu agar mandiri/ unttuk membangun ibu pertiwi/ mari kawan kita wujudkan. Lagu tak terkenal, jarang dihapalkan murid-murid di SD atau SMP. Lagu pernah ada mengingatkan ke bocah-bocah Indonesia agar berilmu. Lagu itu ada dalam buku berjudul Seruling: Kumpulan Lagu Anak-Anak (1992). Dulu, lagu mengajak bocah berilmu. Nah, ilmu digunakan dalam memuliakan Indonesia.
Pada masa Orde Baru, lagu bisa jadi propaganda pembangunan nasional. Buku pun memiliki peran dan pengaruh besar ke bocah. Tjetjep Endang menulis buku berjudul Si Ohim: Merintis Jalan ke Kemajuan. Buku terbitan Pustaka Jaya, 1983. Judul buku sudah gamblang. Cerita menginginkaan kontribusi di pembangunan nasiolan, terutama dalam pendidikan-pengajaran. Buku cerita tak sederhana dihiasi gambar-gambar oleh Wakidjan. Cerita untuk dinikmati bocah dan remaja.
Di pagi hari, Ohim dan teman-teman piket alias jatah membersihkan kelas. Mereka bekerja sambil bercakap dan berlagu. Sekian menit berlalu untuk bersih-bersih, Ohim mengalami peristiwa biasa tapi berdampak menakjubkan. Tjetjep mengisahkan: “Tiba-tiba matanya tertuju pada secarik kertas koran bekas pembungkus kacang tanah. Ia melihat gambar seorang laki-laki berbadan kekar dan berbentuk segi tiga sedang menikam seekor buaya dengan pisau belatinya. Koran itu dipungutnya. Ternyata gambar itu merupakan gambar pertama sebuah cergam…” Ohim membaca bergairah dan cermat. Koran bekas telah tepat bertemu pembaca masih ingusan. Koran berkhasiat. Pada hari penemuan koran bekas, Ohim sanggup mengikuti sekian pelajaran dengan girang. Ia menjawab soal-soal dari guru dengan benar. “Bila aku tidak membacanya, mana mungkin aku dapat menjawabnya,” pengakuan Ohim atas penasaran teman-teman di kelas. Sejak pagi bertemu koran bekas wadah kacang, Ohim berjanji “akan mulai banyak membaca dan menggali pengetahuan.”
Penggunaan bahasa Indonesia di koran sangat membantu Ohim dalam mengikuti pelajaran  bahasa Indonesia. Koran jadi sumber belajar, selain guru dan buku pelajaran. Kita mengimajinasikan masa 1980-an dengan tokoh lugu bernama Ohim. Ia seperti menggaungkan saran-saran pemerintah agar murid-murid rajin membaca koran atau majalah dalam mengikuti informasi di segala bidang. Dulu, koran-koran sering beredar di kota, jarang sampai ke desa. Pemerintah Orde Baru malah pernah mengadakan program koran masuk desa. Novel gubahan Tjetjep Endang belum berurusan koran masuk desa atau koran masuk sekolah. Koran itu sampai ke sekolah Ohim gara-gara pedagang kacang. Dagangan itu dibeli murid-murid saat istirahat. Nah, koran untuk bungkus itu dibuang muris dengan anggapan tak lagi berfaedah. Di mata Ohim, “sampah” itu penentu perubahan bakal terjadi di sekolah dan kampung. Kita kagum pada Ohim cepat bersikap dan peka di peristiwa dan impian keilmuan.
Kita Ohim dan bahasa Indonesia: “Tetapi si Ohim betul-betul memperhatikan pelajarannya dengan seksama, bahkan sampai memperhatikan bahasa Indonesia yang dipakai oleh Pak Guru. Bahasa Indonesia di kampung si Ohim sangat jarang dipergunakan dalam percakapan sehari-hari. Boleh dikatakan ‘hanya dipergunakan di sekolah’. Di luar sekolah mereka mempergunakan bahasa daerah. Karena itu tidak mengherankan kalau bahasa Indonesia anak-anak sekolah belum begitu baik.” Situasi itu semakin membuat Ohim bergairah mencari bekas pembungkus kacang. Ia berkeliling di sekolah, mencari koran-koran bekas. Eh, Ohim cuma bertemu sedikit. Ohim sudah mengimpikan membaca koran setiap hari meski bekas.
Novel itu menginginkan bocah mementingkan koran. Semula, pemahaman koran bekas digunakan sebagai pembungkus makanan. Di peristiwa Ohim, murid-murid diajari melihat hikmah di benda bekas. Koran itu terbukti bisa digunakan dalam memahami atau menambahi pengetahuan berkaitan pelajaran bahasa Indonesia. Di pelajaran-pelajaran berbeda, isi koran tetap dapat membantu keilmuan murid-murid. Koran itu penting! Kita mengira koran-koran masa 1980-an adalah santapan diangankan memberi sokongan ke pembangunan nasional. Di bidang pendidikan-pengajaran, koran memikul tanggung jawab besar. Ohim mengartikan koran sudah memenuhi peran meski belum penuh.
Rangsang koran berlanjut ke buku-buku. Ohim ingin membaca buku-buku. Di sekolah dan rumah, jumlah buku cuma sedikit. Ia ingin rajin membaca, rajin berilmu. Ohim bersama teman-teman mulai bermimpi memiliki taman baca, taman berisi buku-buku, bukan bungan atau rumput. Usulan Ohim mendapat tanggapan dari Anwar: “Tentu kita dan teman-teman dapat menikmati guna, manfaat, dan kesenangan dari membaca buku.” Mereka berjanji mewujudkan taman baca. Siasat demi siasat harus dijalankan untuk taman baca. Pengandaian taman baca sudah ada. “Merangsang minat baca teman-teman kita,” ujar Ohim. Peristiwa menemu koran dan keranjingan membaca membuat impian taman baca membara setiap hari.
Mula-mula, Ohim ingin memikat para teman dengan berbagi cerita dari buku-buku pernah dibaca. Pada masa 1980-an, buku-buku terjemahan bertokoh hero-hero ciptaan Amerika Serikat sudah beredar di Indonesia. Di mata bocah dan remaja, buku komik Superman jadi idola. Ohim mengagumi Superman. Hero dari negeri jauh itu memang membuat bocah-bocah di pelbagai negara tertular imajinasi memukau.
Ohim bercerita: “Ya, seorang yang gagah perkasa itu. Batu penutup gua yang besar sekali dipukul: bumm! Hancur. Ia keluar dari tahanan dan mengejar dua orang penjahat yang telah merampok sebuah bank. Mereka pandai, licik, dan mempunyai senjata ampuh. Tetapi oleh Superman dihajar: buuk, buuk! Mereka ditangkap dan dibawa terbang. Eh, si penjahat tidak takut dijatuhkan, mereka masih mengadakan perlawanan. Oleh Superman kepala mereka diadukan: duuk! Kedua penjahat pingsan. Mereka diserahkan kepada polisi.” Ohim mengingat dan urut dalam menceritaka ulang komik. Superman memang idola bocah-remaja di dunia. Pembaca jangan lekas curiga bahwa Ohim memilih hero Amerika Serikat ketimbang hero-hero di Indonesia. Ohim dan teman-teman pun mengenali para hero dalam wayang dan cerita rakyat.
Pemberian penggalan-penggalan cerita ke teman-teman diniatkan agar mereka penasaran. Nah, penasaran itu membuat teman-teman berhak bergantian meminjam dan membaca buku. Mereka pasti puas jika membaca sendiri. Ohim bertugas memicu penasaran. Masalah besar adalah jumlah mereka. Ohim ingin ada taman baca memiliki koleksi ratusan buku. Beragam buku boleh dibaca oleh teman-teman, tak wajib buku pelajaran. Teman-teman mungkin sudah bosan membaca buku pelajaran.
Kita bergerak jauh ke masa berbeda. Di Kompas, 20 Mei 2019, kita membaca berita bertema membaca buku. “Gerakan literasi tidak akan berhasil tanpa mengajak anak atau siswa menyukai buku. Melalui metode membaca ekstensif, anak sejak dini diajak menyukai buku dan menganggap buku sebagai sumber hiburan dan inspirasi,” tulis di Kompas. Membaca ekstensif diartikan murid membaca tanpa beban. Lho! Murid dibebaskan memilih buku, majalah, atau koran untuk dibaca. Murid tak memiliki kewajiban menceritakan ulang atau menghapal demi pemenuhan nilai-nilai akademik. Terhibur! Murid mendingan senang dan mendapat hiburan ketimbang penat. Nah, keinginan membaca terhibur itu masih sulit dipenuhi di ribuan perpustakaan sekolah di Indonesia. Koleksi buku pelajaran sering “mengalahkan” buku-buku menghibur.
Ohim dan teman-teman dalam keinginan mendirikan taman baca sudah menginginkan ada perwujudan “membaca ekstensif”, bukan membaca selalu menginduk ke mata pelajaran di sekolah. Koleksi buku bercerita Superman atau Tarzan agak memungkinkan bocah-bocah bergirang membaca ketimbang membaca buku pelajaran matematika.
Ohim dan teman-teman bersekongkol dengan Pak RT untuk mendirikan taman baca. Kita sudah mengerti ada pengaruh nalar birokrasi dalam novel. Sekian keinginan warga bergantung ke struktur birokrasi, mulai dari bawah sampai atas. Ketokohan Pak RT sengaja ditonjolkan bermaksud mewartakan ke pembaca bahwa tata birokrasi masa Orde Baru “sangat” mendukung kemajuan pendidikan-pengajaran atau literasi berdalih pembangunan nasional. Semangat Ohim membara setelah bertemu dan bercakap dengan Pak RT. Masalah awal adalah penamaan. Rapat kecil diselenggarakan menentukan nama. Sekian usulan: Taman Bacaan Bersama, Taman Bacaan Gembira, Taman Bacaan Kita. Taman baca belum berhasil diadakan tapi nama sudah dipikirkan. Konon, peristiwa itu menandai “nyawanya adalah semangat.” Mereka emoh pesimis. Taman baca dipastikan ada.
Usulan demi usulan pembelian dan pengadaan buku membuat mereka berpikir dalam menentukan tindakan-tindakan. Usulan bermutu adalah teman-teman mengumpulkan buku tulis sudah tak dipakai. Tumpukan buku tulis dijual di rongsongkan mendapatkan duit atau ditukarkan dengan buku-buku bacaan bekas. Sumbangan buku tulis berarti kemampuan mengadakan koleksi buku. Usulan besar adalah mengumpulkan sumbangan dengan membuat pertandingan sepakbola. Sumbangan penonton digunakan untuk mewujudkan taman baca. Sepakbola mulai berkaitan keaksaraan.
Siasat-siasat diajalankan menghasilkan duit dan buku. Taman baca pun berdiri. Pendirian disertai pembentukan pengurus melibatkan Pak RT, Pak RK, Pak Guru, dan tokoh-tokoh di kampung. Duit dibelanjakan buku. Di toko buku, Ohim kaget. Harga buku mahal! Rapat dadakan memutuskan duit dibelikan buku baru dan buku bekas. Pilihan jenis atau tema buku cenderung ke mereka, bukan “dipaksa” anjuran-anjuran kaum orang tua di kampung. Komik jadi pilihan bersama. Para orang tuan pernah berdialog mengenai belanja buku. Pak Guru menjelaskan: “Tidak semua yang baik menurut kita akan diterima baik oleh anak-anak. Lain halnya jika mereka telah benar-benar dapat menikmati isi buku, maka tidak akan sukar untuk mengarahkan bacaan mereka.” Ohim dan teman-teman ingin girang alias terhibur. Taman Bacaan Kita bukan untuk membuat mereka pusing, mual, lemas, dan murung. Membaca buku itu menggirangkan! 
 Di akhir novel, usulan dan kerja bocah-bocah itu terang sesuai dengan misi pembangunan nasional. Para bocah mungkin tak berpikiran jauh tapi keberhasilan mendirikan Taman Bacaan Kita turut mengabarkan dalil-dalil pembangunan nasional. Kita mengutip ceramah Pak RK di har bersejarah: “Jadikanlah hari ini sebagai titik tolak perpaduan pengalaman kita dengan ilmu yang kita dapati dari buku-buku untuk membangun dan mengembangkan budi pekerti, jiwa raga, dan daerah kita...” Kalimat di pidato itu terasa klise atau menjemukan.
Ohim tak mengalami abad XXI. Dulu, ia membaca koran bekas sebelum berkehendak membuat taman baca. Ia sadar khasiat bacaan berupa koran, majalah, dan buku. Ohim tak ada di masa sekarang. Ohim mungkin sedih jika membaca koran-koran sering memberitakan keapesan literasi. Di Solopos, 20 Mei 2019, ada berita berjudul “Kemendikbud Terbitkan Rekomendasi”. Pemerintah mengeluarkan enam rekomendasi. Pemerintah jangan dianggap bersalah. Pemerintah itu pemecah dan penuntas masalah. Lho!  
Kita mengutip dua rekomendasi dari hasil kerja keras dan pemikiran pemerintah. Rekomendasi nomor 5: “Swasta dan dunia usaha dapat mendukung pemenuhan akses literasi melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan, misalnya mendukung perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan komunitas.” Rekomendasi terakhir: “Masyarakat dan pegiat dapat berpartisipasi dengan membuat perpustakaan di rumah, menyelenggarakan aktivitas rutin membaca di tingkat keluarga serta menjadi donatur bantuan buku untuk sekolah maupun komunitas literasi.” Pemerintah terus bekerja tapi kita terkesan dengan ulah Ohim dan teman-teman. Mereka sanggup mengadakan taman baca tanpa rekomendasi pemerintah. Mereka bukan kumpulan masalah tapi kumpulan pembaca menginginkan buku-buku untuk “disantap” dengan girang dan terhibur. Begitu.



Bocah Bergelimang Masalah


Bocah Bergelimang Masalah

Bandung Mawardi


Mari serahkan kepadaku semua sengsara
sampai di manakah tangis orang-orang putusasa
tiada percaya hidup ini nyanyian mesra
sedang baiknya
jiwa memperkelahikan nasib tiada habisnya

(Mansur Samin, Ajakan, 1960)

Pada masa 1980-an, Mansur Samin dinobatkan oleh kaum pengarang sebagai “Raja Buku Inpres”. Julukan agung bagi pengarang rajin menulis buku mendapat stempel dari pemerintah. Stempel berarti honor besar pemerintah bagi pengarang. Konon, para pengarang masa lalu “bersaing” dalam penulisan buku-buku berstempel Inpres. Soeharto terpandang dan terhomrat sebagai penguasa berpihak pada perbukuan dan “memakmurkan” pengarang. Sekian pengarang mengaku bisa membeli rumah dan mobil dari honor Inpres. Nah, Mansur Samin termasuk menulis puluhan dalam perbukuan Inpres! Julukan “Raja Buku Inpres” mengadung sanjungan dan menjewer keterlenaan pengarang menulis demi Inpres.
Pada masa 1950-an, Mansur Samin sudah tokoh sastra di Solo. Ia biasa dipanggil “kakak” oleh para seniman muda. Di kota mulai dipahami sebagai ruang seni dan sastra, Mansur Samin ambil peran berpengaruh, sebelum berada di pelukan pemerintah dan berpindah ke Jakarta. Mansur Samin tak selalu membuat buku-buku untuk Inpres. Ia pun menulis menuruti “mau” dan “pertimbangan mutu” melampaui taraf Inpres. Peran di Solo tampak dari ketekunan di sastra. Mansur Samin adalah redaktur di siaran sastra RRI Solo dan bergabung di mingguan Adil. Dulu, ia muncul sebagai penggubah puisi di pelbagai majalah. Masa pengakuan sebagai penggubah puisi lekas disusul sebagai penulis buku anak. Para pembaca buku berjudul Tonggak (Linus Suryadi Ag), Angkatan ’66 (HB Jassin), dan Laut Biru, Langit Biru (Ajip Rosidi) pasti berjumpa puisi-puisi gubahan Mansur Samin.
Tahun-tahun berdatanga, Mansur Samin menekuni penulisan buku untuk bacaan anak-anak di seantero Indonesia. Ia menulis 50-an buku anak. Linus memuat sekian judul buku anak garapan Mansur Samin: Berlomba dengan Senja, Parut, Lepas, Si Masir, Si Belang, Luhut, Pesan Sebatang Mangga, Warna, Tagor dari Batangtoru, Empat Saudara, Tidak Putus Asa, Urip yang Tabah, Telaga di Kaki Bukit, dan lain-lain. Jumlah buku memantaskan ia menjadi “Raja Buku Inpres.” Pengakuan belum sah gara-gara tiada disertasi mengulas pamrih-pamrih Mansur Samin di puluhan buku anak menuruti kebijakan keaksaraan Soeharto di masa lalu. Kita terlambat memberi tepuk tangan dan anggukan. Keinginan orang mengenali Mansur Samin tak pernah dipenuhi di Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern (2003) susunan Tim Pusat Bahasa, mengusung kebijakan pemerintah. Di situ, pembaca tak pernah menemu Mansur Samin. Pengarang itu absen, “belum” mendapat pengakuan bagi kesusastraan dan pendidikan di Indonesia.
Penebusan adalah membaca dan memberi tanggapan untuk novel berjudul Si Masir. Masir, bocah nakal. Pembaca dikenalkan dengan bocah memiliki sifat dan ulah membikin marah. Ia memberi malu keluarga. Sekian pengenalan itu memiliki awalan dan akibat. Masir tak mutlak bersalah. Di mata pembaca masih berusia bocah, Masir mungkin dibenci, sebelum dimaafkan dengan niat mengubah diri alias bertobat. Buku berjudul Si Masir memberi halaman-halaman keburukan bocah dan kegagalan keluarga dalam pengasuhan. Di pendidikan, Masir semakin terpuruk. Mansur Samin menulis Si Masir ingin memberikan peringatan atas tokoh tak pantas diteladani di masa pemerintah menganjurkan bocah-bocah menjadi pintar, sopan, tertib, dan cinta tanah air. Masir kebalikan dari  pendefinisian milik pemerintah.
Cerita bermula di daerah perkebunan karet bernama Suka Ramai. Keluarga Haji Samin tinggal di situ membuka warung. Keluarga diceritakan miskin dan bermasalah. Haji Samin bersama istri dan anak bernama Samir hidup dalam keterbatasan. Samir sudah berusia 9 tahun, diharapkan bersekolah agar terhindar dari kebodohan. Sekolah harus di daerah lain, jauh dari Suka Ramai. Perintah agar Samir bersekolah itu bergelimang masalah, sejak halaman awal sampai akhir. Novel melulu masalah. Samir itu masalah!
Buku berjudul Si Samir diterbitkan Pustaka Jaya, 1975. Gambar-gambar oleh Onong Nugroho. Pada masa 1970-an, kebijakan-kebijakan pendidikan mungkin belum gencar dan mujarab. Pemerintah masih melulu mengurusi politik dan ekonomi. Pendidikan di belakang. Nasib bocah-bocah di desa-desa tak seberuntung bocah-bocah di kota. Dulu, kota itu pusat segala. Sekolah sering berada di kota. Mutu pendidikan di kota anggaplah melebihi di desa. Rezim Orde Baru menginginkan memiliki anak-anak pintar tapi belum becus memberi “uluran tangan” ke bocah-bocah di pelbagai desa dan berada di Sumatra, Sulawesi, atau Kalimantan. Indonesia timur pun masih terabaikan. Mansur Samin memberi alamat cerita di Sumatra.
Bapak dan ibu memutuskan Samir bersekolah ke Batangtoru, berarti harus pergi dari Suka Ramai. Samir mau dititipkan ke rumah bibi agar tetap bersekolah. Semula, Samir menolak tapi tak kuasa melawan kehendak ibu dan bapak. Ia terpaksa meninggalkan rumah menggembol kecewa-kecewa bakal ditambahi lagi sekarung kecewa saat tinggal di rumah bibi. Di sana, ia tak kerasan dan mengalami pelbagai kesalahan. Samir bermasalah di sekolah dan rumah. Bibi tak sanggup mengawasi dan mengatur. Bibi memiliki anak-anak memberi kerepotan besar, sulit menambahi beban mengurusi Samir.   
Pulang sekolah, Samir sering bermain ke sungai. Ia bergirang bersama teman-teman. Si bocah tiada ingin turut membantu kerepotan di rumah bibi. Ia pun malu menumpang di rumah bibi. Pada saat berada di sungai, Samir kedatangan bapak. Ia kepergok sering bermain ketimbang belajar atau membantu pekerjaan di rumah bibi. Bapak murka! Kemarahan dikalimatkan ke Masir: “Tidak perduli siapa yang mengajak. Pokoknya kau tidak boleh mandi ke sungai. Kalau kau hanyut bagaimana? Kalau tenggelam bagaimana? Bibimu yang susah. Kau tidak tahu di sungai itu ada buaya? Mau dimakan buaya?” Marah belum memuncak. Masri harus meninggalkan sungai, berpisah dari teman-teman.
Marah belum selesai: “Pakaianmu sudah compang-camping. Kukumu seperti kuku macan. Kakimu penuh daki. Tanganmu berkudis!” Penampilan Masir membuat bapak berhak menimpakan marah. Masir ada di situasi petaka. Ia sulit mengelak dari marah-marah. Ia wajib menderita dan menuruti perintah-perintah bapak.
Kejadian itu membuat bapak memutuskan Masir kembali ke Suka Ramai. Masir kelas 3 SD tetap saja bodoh dan menambahi ulah nakal. Pulang ke Suka Ramai, marah diberikan ibu. Bersekolah justru mengundang masala-masalah. Ibu melihat tubuh Masir: koreng, daki, patek, bengkak. Ibu mulai galak. Masir dituduh jarang mandi. Masir diam, tak berani menjawab. Tindakan darurat dilakukan: “Masir buru-buru menanggalkan pakaian. Ibu menggulung lengan baju lalu memandikan Masir. Daki yang mengental di sela-sela bagian tubuh Masir digosok dengan sekeping batu. Masir merintih. Ia menggelinting karena kegelian, tapi ibu tak perduli. Seluruh tubuh Masir digosok batu. Daki yang menebal mengelupas. Masir meringis-ringis.” Ibu seperti membuat konklusi: sekolah tak mengajarkan Masri rajin mandi. Fatal!
Bapak dan ibu rapat lagi. Masir tetap pergi dari rumah lagi. Masir harus sekolah. Usulan baru adalah menitipkan ke rumah kakek-nenek. Keputusan dilematis. Hari demi hari berganti, Masir berada di rumah kakek sudah tiga bulan. Ia dimanja kakek. Manja sampai ke pengajaran merokok. Kakek jadi guru. Masir jadi murid. Pelajaran “penting” adalah merokok. Kita membaca pengisahan Mansur Samin: “Sebenarnya kakek sendirilah yang mengajar Masir merokok. Ia mengajar bagaimana melinting tembakau dengan daun nipah, lalu menunjukkan bagaimana mengudapnya. Masir sudah biasa merokok. Melinting pun mahir. Berkat petunjuk dari kakek.” Sekolah jadi urutan belakang, tak penting di keseharian Masir. Ilmu merokok mengakibatkan Masir harus pulang lagi ke Suka Ramai, setelah kebiasaan ngeses diketahui bapak. Masir merokok menghasilkan: ibu menangis dan bapak mengomel. Masir semakin bermasalah!
Bapak dan ibu lagi-lagi rapat demi nasib Masir. Keputusan ketiga: bapak dan ibu mengeluarkan ongkos untuk sewa rumah dihuni Masir agar tetap bersekolah. Keputusan dikira membawa kebaikan. Hidup Masir diinginkan berubah. Pengarang menceritakan: “Masir sekarang masak sendiri. Mengurus diri sendiri. Perbelanjaan Masir setiap minggu diambilnya ke Suka Ramai...” Kebijakan memaksa Masir mandiri. Dugaan bapak-ibu meleset! Cita-cita melihat Masir giat belajar tak pernah terwujud. Masir malah jarang masuk sekolah. Masir rajin membolos. Masalah bertamabah: “Masir sudah kerap menjual pakaian dan bekalnya untuk dijudikan.” Judi memberi derita: “Hidup Masir sudah mirip anak gelandangan. Sebab pakaiannya sudah robek-robek, makannya tidak teratur, tidurnya bebas di mana saja ia suka. Rumah tempat tinggalnya lebih banyak dikosongkan daripada didiami.” Kita belum sempat membaca penggalan masalah itu sambil menaruh kebermaknaan lagu-lagu gubahan Rhoma Irama mengani judi atau gelandangan. Kita cuma mengerti Masir mengabarkan bocah-bocah di Indonesia terlalu cepat merusak diri dan keluarga.
Bapak dan ibu membuat keputusan semakin salah! Mereka “sengaja” membuat Masir berantakan sebagai bocah dan murid. Masir terlalu bersalah tapi bapak-ibu memiliki peran besar dari pembesaran masalah. Masir membuat bapak dan ibu bersedih. Masir tak mau selalu disalahkan dan dikutuk. Ia melawan dan berani memberi serangan telak ke bapak sebagai orang sering berutang dan gagal membahagiakan keluarga. Bapak dan anak bertengkar sengit. Bapak merasa di pihak kalah. Bapak mengalami lesu tak berkesudahan. Salah ditimpakan ke bapak. Marah-marah ke Masir berbalik menjadi timbunan masalah.
Masir gagal menjadi murid santun, rajin, dan pintar. Di rumah, Masir gagal menjadi bocah budiman. Segala kisruh dimengerti Masri adalah “neraka”. Ia minggat ke rumah kakek, berharap perlindungan dan pemanjaan. Mansur Samin menulis: “Bagi Masir, kakeklah satu-satunya orang yang mengerti kesedihan dan penderitaan hidupnya. Kakek dianggap mengerti kesunyiannya, mengerti rasa malu yang dideritanya. Kakek adalah orang yang paling mengerti segala keinginannya.” Perjumpaan dan percakapan dengan kakek tak seperti harapan semula. Kakek memberi nasihat agar Masir serius bersekolah. Kakek menilai perlakuan bapak ke Masir itu mengandung benar. Masir diminta mengubah perangai. Kakek tak lagi seperti dulu: memanjakan dan selalu membela Masir.
Di akhir cerita: “Masir pergi berbaring. Ia sadar telah melakukan kesalahan. Ia insaf. Air matanya titik berlinang. Air mata kesadaran. Kesadaran untuk memperbaiki perangai. Malam makin larut. Masir tidur pulas.” Awal dan akhir cerita membikin pembaca melak masalah besar di Indonesia: pendidikan dan keluarga. Masir sebagai bocah ada di keluarga belum sanggup menerapkan pengasuhan dan pendidikan manusiawai. Di sekolah dan pergaulan bersama tema-teman membuktikan pengaruh-pengaruh buruk cepat menular. Di tatap mata rezim Orde Baru, kegagalan itu lazim.
Pada abad XXI, kita membaca Si Masir dengan sorotan sastra dan pendidikan. Bukalah buku berjudul Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan (2009) garapan Yudi Latif. Pemikiran terlambat datang dari penerbitan Si Masir. Kita tetap ingin menaruh pendapat Yudi Latif ke arah Masir, keluarga, dan sekolah di masa lalu. Yudi Latif menjelaskan: “Pendidikan karakter menggarap pelbagai aspek dari pendidikan moral, pendidikan kewargaan, dan pengembangan karakter.” Krisis atau seribu masalah ditanggungkan bocah dalam bersekolah telat diurusi dengan pendidikan karakter. Masir dalam novel terlalu lama “rusak” dan “bermasalah”, sebelum berniat tobat. Peran guru di sekolah memberi peringatan dan anjuran ke Masir agak membuktikan peran mengurusi karakter murid berlaku di masa lalu dengan kadar terbatas. Pada abad XXI, Si Masir mendingan cetak ulang dilengkapi pengantar kritis di pembenaran pendidikan karakter. Novel itu penting terbaca oleh murid-murid di zaman bergelimang masalah. Begitu.